ORANG PAPUA BUKAN BODOH
![]() |
Foto Pribadi |
Hidup ini selalu berlomba-lomba untuk bersaing individu maupun individu lain, individu ke kelompok dari kelompok ke kelompok lain. Tentu semua manusia bersaing melalui pendidikan baik itu bersaing antara Kampung, Distrik, Kabupaten, Provinsi, bahkan antara Negara. Di Papua membangun jumlah dari jenjang Sekolah Taman kanak-kanak (TK) Sampai sekolah Perguruan Tinggi (PT.) mencapai 5,554 sekolah. Di papua membangun sekolah dimana-dimana waktu yang silam, seiring waktu berjalan sekolah tersebut kurang perhatian dari pemerintah setempat baik itu sarana prasarana maupun fasilitas sekolah.Sekolah Dasar saja berada di ibu kota Kabupaten kota /atau ibu kota Kecamatan, orang tua yang tinggal di Pedesaan bahkan di Pelosok-pelosok sangat jauh dari sekolah. Mereka pergi ke sekolah pagi pukul pagi 05;30 keluar dari rumah sampai di sekolah jam 07; 50 bahkan barang kali mereka terlambat karena perjalanan sangat jauh. Dari rumah keluar, naik gunung, turun gunung, melewati kali, sungai lewat kaki gunung, bukit, bahkan lewat lewat gunung. Mereka melewati perjalanan sekitar 10 Km sampai dengan 15 Km bahkan 20 puluhan Km.Dua puluhan Km yang mereka menempuh lewat jalan tikus sementara mereka belum mengenal namanya jalan Raya sepeda motor, bus angkut, mobil, dan lain sebagainya. Dimana ada sekolah disitu tidak memiliki sarana dan prasarana apa yang memadai lagi perpustakaan sekolah, media internet. Semua alat membantu untuk siswa masih minim hanya satu-satunya buku cetak, tetapi buku cetakan pun masih robek-robek karena sudah puluhan tahun sudah pakai buku itu tersebut.Tingkat SD sebenarnya memiliki banyak ruang belasan unit ruang kelas. Namun sayang hanya enam ruang kelas yang masih bisa dikatakan layak digunakan untuk proses belajar mengajar. Itupun kondisi dalam kelas jauh dari nyaman. Jarak yang terlalu pendek dari atap ke lantai membuat situasi dalam kelas pengap.Ditambah atap yang terbuat dari seng tanpa plafon membuat para siswa harus rela "dipanggang" saat belajar di siang hari.Sementara empat unit kelas lainnya sudah tak bisa digunakan. Alhasil, 264 orang siswa tak bisa ditampung di sekolah ini.Pengelola sekolah sempat mencoba sistem belajar bergantian. Artinya enam kelas selama sepekan masuk pagi dan sisanya masuk siang. Di pekan depan giliran mereka yang masuk siang bersekolah di pagi hari, itupun bukan membuat mereka menyerah akan tetapi guru-guru berusaha untuk mengajar, menjaga ruang kelas yang ada.Disana barang kali masuk sekolah dasar saja merantau apa lagi SMP, SMA, maupun Perguruan tinggi. Memang mereka sadar bahwa kita juga mampu bersaing dengan orang lain, dengan semangat itu jadikan dasar untuk menempuh pendidikan.Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan, tetapi pemerintah tidak perhatikan dengan baik akibatnya peralatan pendidikan seperti buku, kursi, meja, bahkan gedung sekolah rusak dan rumput tinggi, akan tetapi guru-guru, berusaha keras sudah, sedang dan akan menjaga dan mengajar siswa tanpa berharap pemerintah setempat.Masalah yang akan menghadapi didunia pendidikan Orang Asli Papua ( AOP ) di papua meliputi” Tidak Memiliki Guru atau Guru yang Tidak Terlatih, Tidak,Tersedianya Ruang Kelas yang Memadai, Dana Pendidikan yang Kurang, Kekurangan Bahan Belajar, Jarak Sekolah yang Sangat Jauh, Nutrisi yang Harus Dicukupi, Masalah Biaya Pendidikan. Persoalan Beasiswa pun Pemerintah provinsi Papua maupun Pemerintah Daerah terbagi habis dinas terkait di tingkat Kabupaten maupun Provinsi, akhirnya ditangan kepala sekolah hanya dapat sisa dari dana tersebut itu.Kenyataan di lapangan siswa tak pernah rasakan dana beasiswa tersebut. Pada hal latar belakang orang tua rata-rata miskin, akan tetapi dalam satu keluarga membiayai anak 1-3 Anak bahkan 5 Anak tanpa perhatian dari pihak lain entah itu Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Provinsi.Jangan bilang OAP tidak mampu, semua masalah yang penulis jelaskan diatas baik itu sarana- prasarana maupun, fasilitas sekolah, Pemerintah tidak turun tangan, jarak sekolah sangat jauh, latar belakang orang dan sebagainya. Semuanya bukan tantangan buat orang papua tetapi orang OAP berani dan mampu melawan semua masalah yang terjadi di kalangan Masyarakat, Pemerintah, maupun di kalangan Mahasiswa.Banyak OAP disetiap program baik itu, Sarjana S1, S2 bahkan S3 jutaan Mahasiswa yang sudah, sedang dan akan mendapat Gelar tersebut. Bukan Gelar saja melainkan ada yang pengusaha di papua bahkan pengusaha di ASEAN. Intinya OAP mampu bersaing dengan tingkat nasional bahkan internasional.Masalah jabatan OAP sudah, sedang dan akan menduduki jabatan dari tingkat RT/ RW, Kepala Desa, Kepala Distrik, Bupati, Gubernur, Kementerian, DPD, DPR RI bahkan di luar Negeri pun ada OAP yang menduduki jabatan tertentu. Apakah OAP Bodoh? Kalau memang OAP Bodoh mereka tak mungkin berusaha/ atau bersaing dengan orang luar dan tidak mendapatkan Gelar Sarjana, menduduki jabatan, dan sebagainya. Akan tetapi mereka berusaha dan berani melewatkan banyak tantangan maka pasti OAP pintar dan mampu bersaing dengan tingkat Nasional maupun Internasional.Penulis ambil contoh misalnya Persipura. Persipura pemain-pemain yang ter mahal di tingkat, Nasional bahkan internasional. Pemain-pemain persipura pertama mereka latihan di halaman rumah, diatas rumput apa lagi sarana dan prasarana lainnya, tetapi mereka bisa bisa bersaing atau mampu bersaing dengan tingkat Nasional maupun Internasional. Seluruh penjuru dunia tau bahwa OAP mampu bersaing dengan orang lain di tingkat Nasional maupun Internasional.Non papua keuntungan besar bagi kamu sekolah depan rumah menghemat waktu, dan biaya transportasi, aktivitas anak bisa di pantau, dan lebih aman. Kamu memiliki guru atau guru yang terlatih, sarana, prasarana, dan fasilitas yang memadai, sudah Tersedianya Ruang Kelas yang Memadai, Dana Pendidikan yang sangat besar, Bahan Ruang Belajar Memadai, media, perpustakaan semuanya sudah lengkap, apa lagi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) setiap tahun tetap membuka jalur Afirmasi bagi anak dari keluarga tak mampu dan di stabilitas, di samping jalur zonasi dan pindah tugas orang tua atau anak guru, bahkan sekolah di gratis kan. Tetapi mereka tidak berusaha akhirnya jadikan pengaming, aibon, konsumsi alkohor, dan lain-lain itulah yang dikatakan manusia tidak mampu.
*) PENULIS ADALAH MAHASISWA PAPUA DI
BOGOR.


2 Komentar
Luar biasa
BalasHapusLuar biasa dikku.
BalasHapus