Recents in Beach

PERBEDAAN PENDIDIKAN DI PAPUA DAN PULAU JAWA

 

PERBEDAAN PENDIDIKAN 
DI PAPUA DAN PULAU JAWA

Dok Pribadi. Kosmas Kegiye

Pendidikan di Indonesia tentunya memiliki perkembangan yang sangat pesat, tapi hal ini tidak begitu berdampak pada beberapa wilayah di Indonesia. Contohnya saja daerah Papua. Di sana masih banyak sekali sekolah-sekolah yang secara fasilitas dan sarana prasarana masih sangat kurang, dan tertinggal.

Proses belajar-mengajar di pedalaman Papua pun tidak sebanding dengan apa yang didapatkan sekolah-sekolah di daerah Pulau Jawa. Kurangnya kesadaran dan minimnya fasilitas pendidikan membuat guru-guru di Papua harus memiliki upaya ekstra sebelum mengajar murid sekolah dasar mereka sendiri selalu menyiapkan peralatan tulis menulis yang dibutuhkan siswa seperti buku, pena, pensil dan lain-lain.

Jika digali lebih luas lagi, bagian pedalaman Papua masih kurang fasilitas sekolah dan tenaga pengajarnya pun masih sangat minim. Ada Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Papua yang hanya memiliki satu jurusan saja, yaitu jurusan pertanian. Selain itu belum memiliki fasilitas yang memadai untuk melakukan praktikum dan kegiatan laboratorium lainnya, oleh karena itu, proses belajar mengajar masih sebatas pemberian teori tanpa praktikum. Belum lagi, mengenai kurikulum yang digunakan masih kurikulum 2013 (K13).

Bahkan ada beberapa sekolah yang berada di pedalaman Papua belum menerapkan kurikulum tersebut. Mengapa demikian? Ini terjadi akibat kondisi murid di sana yang belum bisa diajarkan sesuai standar yang ditentukan oleh Pemerintah, Hal ini juga disampaikan oleh tenaga pengajar. Banyak kendala yang dihadapi, lain lagi soal di wilayah Papua terutama di bagian pedalaman masih banyak ditemui anak-anak yang sudah beranjak remaja maupun dewasa yang masih belum mengenal huruf maupun angka secara baik.

Jika dilihat dari faktor-faktor apa saja yang membuat kendala seperti ini masih ada yaitu ; pertama, terkait infrastruktur baik jalan, jembatan, sekolah maupun listrik. Terkadang jarak dari rumah dan sekolah sangat jauh dan akses jalan yang kurang mendukung membuat anak-anak di Papua terhambat untuk belajar dan menuntut ilmu demi masa depan yang cerah. Kedua, masalah perekonomian di pelosok Papua yang kurang baik membuat anak - anak di sana harus membantu orang tuanya mulai dari bercocok tanam, berkebun sampai melaut. Namun, hal itu tidak menyulutkan semangat anak-anak Papua untuk tetap bersekolah dan menuntut ilmu walaupun sekolah mereka tidak sebagus dan sebaik sekolah-sekolah di daerah Pulau Jawa.

Tak kalah dengan bagian pedalaman Papua, di bagian perkotaan pun masih ada fasilitas sekolah yang kurang memadai dan sangat tertinggal. Bahkan, kenyataan yang terjadi ketika anak-anak SMA di perkotaan Papua berkuliah di daerah Pulau Jawa dan di luar daerah Papua. Mereka bahkan mengalami kesulitan menyesuaikan dengan pola pendidikan di luar Papua yang sangat maju dan berkembang.

Di Pulau Jawa hampir semua tersedia bagi peningkatan mutu pendidikan bagi anak-anak sekolah. Baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan luar sekolah, seperti lembaga Bimbingan Belajar (BIMBEL) dan lain-lain. Sehingga kebutuhan akan pendidikan bagi anak-anak di Pulau Jawa hampir terpenuhi dengan baik. Hal ini hampir tidak pernah dirasakan oleh anak-anak di pedalaman Papua dikarenakan, sepulang sekolah mereka harus membantu kedua orang tua untuk berkebun dan lain sebagainya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Anak-anak Papua di pedalaman tinggal di rumah tradisional Papua yang disebut “HONAI”. Mereka hanya memanfaatkan pelita untuk pencahayaan, baik untuk belajar maupun kegiatan sehari-hari di rumah. Tentu sangat tidak efisien dan efektif jika dilihat dari kondisinya, tetapi hal itu bukanlah penghalang bagi mereka.

Anak-anak pedalaman Papua pergi ke sekolah setiap hari berjalan kaki dengan alas kaki seadanya dan ada juga yang berjalan tanpa alas kaki, melewati bukit dan terkadang mereka tidak bersekolah karena di beberapa tempat di Papua situasi keamanannya tidak kondusif dan rawan konflik. Guru-guru pendatang yang bertugas mengajar pun sangat merasa khawatir dengan kondisi seperti itu, terkadang terbesit ingin pergi dari tempat mereka mengabdi. Hal ini tentu jarang terjadi di sekolah-sekolah di Wilayah Pulau Jawa, anak-anak bisa belajar dan menuntut ilmu tanpa ada tekanan konflik daerah dan ancaman terhadap kehidupannya.

Harapan ke depannya semoga anak-anak sekolah di Papua bisa mendapatkan pendidikan dengan kualitas yang lebih baik. Tenaga pengajar yang berkualitas sehingga bisa lebih efektif dan menunjang peningkatan kualitas dan mutu Pendidikan dengan cara memperbaiki sarana dan prasarana pendidikan yang memadai dan sejajar dengan kualitas Pendidikan yang ada di daerah Pulau Jawa. Dengan demikian, dari segi kognitif anak-anak Papua juga bisa bersaing di era globalisasi demi terciptanya sumber daya manusia Papua yang unggul dalam segala bidang.

*) PENULIS ADALAH MAHASISWA PAPUA DI KOTA HUJAN.

 


Posting Komentar

0 Komentar