Cerpen Pendidikan – Lembaran Putih
![]() |
| Kosmas kegiye Nim :032120050 |
Siang ini saya disambut
dengan hamparan debu yang menyiksa penciuman, debu-debu itu seakan membuat saya
sesak dengan aroma yang khas. Iya, kini saya telah sampai di sebuah pulau
terpencil. Tepatnya di selatan Indonesia, dan saya mendedikasihkan diri menjadi
seorang guru di tempat ini. Langkah demi langkah saya lalui dengan sambutan
anak-anak yang sedang bermain dengan sehelai kain lusuh. Mereka memandang saya
seakan melihat sesuatu yang belum mereka lihat, padahal saya hanya memakai
pakaian biasa berselimut jaket biru kesayanganku dan sebuah ransel dan koper
besar yang saya tarik.
“akhirnya kamu datang
juga?” wanita paruh baya itu mengejutkanku saat saya melewati (sebuah)
rumahnya. “kamu pasti Rafly?” ucapnya lagi, namun nadanya seakan mengajakku
untuk berbicara lebih dalam lagi “iya, saya Rafly? apa anda Ibu Asih?” beliau
hanya menjawab “iya, kemarilah kau pasti sangat lelah” akhirnya saya menaiki 5
anak tangga yang menghubungkan ke teras. Saat itu saya sangat lelah, dan saya
pun beliau adalah guru di pulau ini, iya.. beliau yang memperjuangkan
kemerdekaan yang sederhana disini. Hari mulai larut malam, baterai smartphone
saya akan habis tapi tidak ada aliran listrik disini. Saya mengambil sebuah
jeruk dan mengisi baterai smartphoneku dengan lempengan kawat yang kulilitkan
disana, dan cara itu berhasil.
Pagi menjelang, kini
langkahku memasuki daerah sekolah. Dan kulihat ini seperti bukan sekolah, papan
tipis yang digunakan mulai rapuh, atap-atap seakan ingin memakan mangsa dan
suatu saat bangunan itu akan runtuh. Saya melihat beberapa dari mereka bermain
bola. Tak terasa kini saya mulai mengajar di kelas yang mirip seperti sebuah
gubuk.
“selamat pagi
anak-anak” ucapku seraya meletakkan beberapa berkas di meja. Saya
memperkenalkan diri dan mulai mengambil buku dari loker. Namun saya melihat
tulisan disana tertera di cetak pada tahun 80an-90an, artinya mereka belum
menyentuh KTSP dan K13, buku itu benar-benar rusak, banyak halaman yang hilang
dan robek. “kalian belajar dengan buku ini? Lalu dimana buku kurikulum 2013
nya?” ucapanku membuat suasana hening, salah satu anak laki-laki mengangkat
tangan kanannya “maaf pak, kami hanya mempunyai buku itu. Kurikulum itu apa
pak? Kami belum tau, dan selama kami sekolah di sini hanya ada satu guru itu
pun bukunya juga memakai buku yang dipegang bapak” saya merenung, kemudian saya
berdiri di tengah “kurikulum adalah suatu materi yang disusun secara apik. Dan
kurikulum ini sama seperti buku lainnya hanya saja sistem yang digunakan
sedikit berbeda. Maksudnya materi di dalamnya lebih mendalam” kemudian anak
laki-laki itu berkata “saya mau mencoba kurikulum, kenapa kami tidak pernah
menerima buku baru sementara di kota-kota besar sudah banyak yang menerima”
saya merasa lemah mendengar perkataan itu, namun saya tetap menjelaskan materi
kurikulum agar mereka dapat merasakan apa itu kurikulum. Hari berganti sore,
kini aku telah sampai di rumah Ibu Asih dan aku membuka klinik kecil disana.
Saat waktu magrib ada seorang anak kecil yang mengetuk pintu.
“anda pasti pak Rafly,
guru baru dari kota itu kan?” gadis itu menunjukan sebuah tulisan di
genggamannya “iya saya Rafly, dan kenapa kamu menulis di selembar kertas putih
ini?” dia menatap bibirku seakan ia membacanya, kemudian anak kecil itu menulis
lagi “saya Qifa, maaf pak saya tuli dan bisu.. tapi saya ingin belajar dengan
anda, saya ingin menjadi dokter” belum 3 hari saya disini, tapi air mata saya
sangat lancar ketika melihat hal seperti ini. “ayo masuk, saya punya sebuah
pudding coklat” dia duduk di sampingku, dia ingin menggapai impiannya tapi buku
pun tidak ada. Ia memulai curhatnya betapa ia ingin menjadi dokter dan sekolah.
“ibu dan ayahku tidak pernah menemaniku, hanya ada nenek yang selalu di
sampingku. Orangtuaku terlalu sibuk sampai mereka tidak menemaniku” ia
membicarakan semua penderitaannya.
Hari berganti siang,
aku menghungi temanku. Aku ingin ia mengumpulkan buku sebanyak mungkin agar aku
dapat membagikannya pada anak-anak disini. Beberapa hari berganti minggu. Saat
ini setiap hari sabtu sore saya berkeliling dengan membawa buku dari temanku
itu dan menunggangi kuda, terkadang saya terharu melihat saat mereka membaca.
27 tahun usia saya sekarang, dan saat ini ada sebuah olimpiade internasional
yang diselenggarakan di Beijing. Dan saya memutuskan untuk memilih Marcus untuk
mengikuti tes di Jakarta, karena ia sangat lihai di bidang sains. Dan saya
mencoba menghubungi dinas terkait agar ia yakin kepada saya kalau Marcus bisa
maju ke internasional. Setiap sore ia datang ke rumah saya sedangkan Qifa
membantuku untuk merawat pasien yang sedang sakit, saya sudah memberi
pengarahan kepadanya bagaimana menyusun obat dan memeriksa setiap orang, Qifa
benar-benar sangat cerdas dalam hal kesehatan. “Qifa” sapaku “ada apa pak
Rafly? Qifa salah memberi obat?” tulisan itu terpampang jelas di depanku “kamu
jaga klinik dulu, saya mau mengajar Marcus” ia hanya menganggukan kepala dan
melukis senyum.
“pak, saya tidak yakin
akan lolos” ucapnya (Marcus) pelan “ini kesempatan kamu, kamu buktikan kalau
kamu bisa. Kita di sini bertemu dengan berbagai macam masalah” ucapku “tapi
pak, saya tidak percaya diri” terangnya “kamu masih muda, kamu pandai di bidang
sains. Kesempatan tidak akan datang dua kali Marcus” hanya diam, kini aku mulai
menjelaskan beberapa materi untuknya. Hari itu kondisi saya sedikit memburuk
“uhuk-uhuk.. uhuk” “pak Rafly kenapa? Apa anda baik-baik saja?” tanya Marcus,
mungkin paru-paruku kambuh lagi -dalam hati “tidak, saya baik. Belajarnya
sampai di sini dulu, besok kita sambung ya” ia menuruti saya, dan segera pulang
begitupun Qifa. Saat ini saya berada di atas tempat tidur dan memikirkan
sesuatu “saya harus yakin kalau Marcus bisa, tapi buku-buku ini serasa kurang”
3 bulan setelah itu,
Marcus semakin pandai. Ia membuat suatu rumus baru, berbekal buku sumbangan
dari teman-teman saya, Marcus sangat bersemangat untuk semua ini. Namun kondisi
saya memburuk, tapi semangat saya untuk “memberi tahu” semua orang di dunia
ini, kalau anak dari daerah terpencil juga sangat pandai.
Ibu Asih juga demikian,
beliau membantu saya dalam banyak hal. Dan beberapa hari yang lalu, saya dan
Ibu Asih membuat hidroponik sederhana di sekolah. Meski saya sakit, saya tidak
akan menyerah.
Singkat cerita, saya
dan Marcus di Jakarta. Saat itu, wajah saya tidak bisa lagi segar dan saya
sangat lemas. Dan saya setiap hari harus merogoh kocek cukup dalam untuk
menghubungi Ibu Asih, agar beliau dapat memberi kabar pada orangtua Marcus. 1
minggu berlalu, kini pengumuman tes telah di bacakan. Dan Marcus lolos dalam
tes dan peraih nilai terbaik. Olimpiade mulai 2 bulan lagi, saya meninggalkan
Marcus di asrama karena saya harus kembali mengajar di sekolah.
Singkat cerita, kini
telah kembali mengajar di sekolah dan semua siswa menanyakan Marcus, itu
membuat saya terasa termotivasi untuk memajukan anak-anak ini. Dengan kondisi
saya yang sekarang, saya tetap belajar dan memberi materi, berkeliling untuk
menjadi “pembawa buku”, membuka klinik, dan membuka ekstrakurikuler lingkungan
hidup. Saya tidak menginginkan bayaran untuk semua ini, saya tidak ingin dipuji
banyak pihak, tapi saya ingin memajukan negeri ini.
3 hari sebelum Marcus
berangkat ke Beijing, saya sakit dan tidak berdaya. Qifa yang merawat saya
sekarang begitu juga Ibu Asih, badan saya sangat panas bahkan untuk berdiri
saya mual bahkan muntah. Namun saya tetap mengajar dengan cara mengoreksi tugas
dari anak-anak, saya tidak mau karena saya sakit, mereka tidak bisa memahami
materi.
“halo? Pak Rafly?” Saya
mengangkat telepon dari Marcus “halo, bagaimana kabarmu? Apa kamu sudah siap?”
tanyaku “saya siap, saya belajar banyak disini. Saya bertemu dengan guru-guru
yang sangat baik seperti Pak Rafly? ” ujarnya dengan nada gembira “uhuk uhuk…
semoga kamu sukses disana, saya dan teman-temanmu yang lain akan mendukungmu”
suara saya lemas saat itu “bapak sakit?” “tidak, ingat pesan saya Marcus. Kita
tidak bisa membuat gedung pencakar langit, tapi kita bisa membuat prestasi yang
melebihi ketinggian gedung pencakar langit itu” saya terus asyik mengobrol
dengannya. Sampai saat nya, kami melihat Marcus kembali dengan piala dan medali
emas, serta senyumnya yang manis. Sekaligus melihat Qifa telah menolong
sesamanya yang sedang sakit meski ia hanya membaca gerak bibir. Setiap hari
saya hanya memakan 3 sendok nasi dan sebuah jeruk, serta membagikan apa yang
saya punya.
Saat Marcus mulai
bersekolah kembali, ia merasa sedih. Saya tidak mengajar di sekolah, karena
saya telah meninggalkan mereka karena sakit. Saya menghembuskan nafas terakhir
saat saya membaca sebuah ayat. Ketika saya sembahyang Tahajjud di rumah Ibu
Asih. Namun, kemenangannya membuat teman-temannya tersenyum dan termotivasi.
Akhirnya kini mereka adalah anak-anak yang pandai, dan mereka sering mengikuti
olimpiade tingat provinsi maupun nasional. Saya berhasil membuat mereka pandai
melalui Marcus dan Qifa yang pandai di bidang kesehatan.
“Kita tidak bisa
membuat gedung pencakar langit, tapi kita bisa membuat prestasi yang melebihi
ketinggian gedung pencakar langit itu”
Sekian & terima
kasih!!
Berkaitan denga cerpen
dan sastra menurut saya yakni sebagai berikut .
Mengapa saya memili
cerpen ? Karena cerpen tergolong bacaan ringan dan bisa diselesaikan dalam
sekali baca. Cerpen, selain mengasah nalar, juga mengasa rasa, membangun
empati. Orang membaca cerpen, lebih menikmati ceritanya, penokohannya, dan
nilai yang ada di dalamnya.
Dan ada juga bermamfaat
bagi orang yang membaca cerpen :
1.
meningkatkan
kecerdasan
2.
meningkatkan
daya inisiatif dan kreatif
3.
menumbuhkan
keberanian
4.
mendorong
kemauan
Dikarya
: Oleh
Nama :kosmas ,M. Kegiye
Nim
: 032120050
Universitas
:
Pakuan
Fakulitas
:Fkip
Jurusan
:Bahasa dan sastra Indonesia


1 Komentar
Terbaik luar biasa 🙏✊🏾
BalasHapus