| Doc. Pribadi |
Hai, namaku Kosmas Kegiye, biasa di panggil Kosmas. Aku asli Papua tapi sementara ini aku tinggal di Bogor karena aku sedang kuliah ini. Aku senang disini karena udaranya yang masih sejuk dan perairan yang jernih.
Suatu sore, saat itu aku
sedang di bawah pohon memainkan hpku. Tiba-tiba, ada anak laki-laki berkulit
putih manis berambut lurus. Sepertinya asli dari sunda deh, batinku dalam hati,
‘’hai siapa namamu? “tanyanya ramah. “halo
namaku Kosmas, kalau kamu? ; tanyaku balik.
“Nama aku Dwi fajar, asalku dari sunda” kami pun mengobrol dan bermain cukup lama sampai sore lalu
kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Hari-hari pun berlalu.
Pertemananku dengan Dwi fajar semakin erat. Oh iya, aku juga sudah bersekolah
di tempat Dwi fajar. Selain Dwi fajar, aku punya banyak teman. Setiap hari kami
semua ketemu di kampus, selain di kampus kami juga ikut teater di berbagai
tempat. Aku dan teman-teman kadang kita pergi mandi di kolom renang dua ribu.
Sampai pada suatu hari aku, dapat libur dan aku harus pergi liburan ke Dandung
ada rasa senang dan sedih. Senang karena dapat ketemu dengan teman waktu SMP di
Papua, sedih karena sedih karena harus meninggalkan Dwi fajar, teman-teman lain
dan alam yang sangat indah.
“Dwi fajar, teman teman.
Aku akan balik ke Bogor lagi, kalau masuk liburan aku akan disini dan aku akan
mengirimkan surat untuk kalian” kami pun berpamitan.
Hari ini aku sudah
kembali ke Bogor dan kembali melakukan aktifitas-aktifitasku. Aku tak lupa
dengan Dwi fajar dan teman teman lainnya di Bogor sana.
Dua minggu pun telah
berlalu. Aku berniat mengirimkan surat untuk Dwi fajar. Segera kuambil amplop
dan kertas berwarna pink dan dipinggir pinggirnya terdapat gambar kupu-kupu.
Dear Dwi fajar.
Hai Dwi fajar, apa
kabarmu disana dengan teman temanmu yang lain? Pasti sehat-sehat saja. Kabarku
disini baik dan kabarku disini baik dan aku sangat rindu kalian. Dwi fajar
teman-teman, kalian sedang apa? Jaga diri kalian baik-baik ya, jaga kesehatan
kalian juga. Sekian dulu surat dari ku
byeeee!!!
Aku memasukan Nya didalam
amplop dan kutempelkan perangko. Aku naik motor menuju Kosan temanku setelah
itu pulang.
Satu minggu kemudian, Dwi
fajar mengirimkan surat untukku.
Maaf Kosmas, ini ibu Dwi
fajar. Sabar ya, sekarang Dwi fajar sudah menikah dengan teman SMA. Aku senang
dan aku titip salam buat istrinya melalui ibunya. Aku sampaikan kepada ibunya
semoga Dwi fajar dan istrinya baik-baik disana. Alhambulilah baik-baik
anak. Aku sangat senang dengar berita
ini dan mama ku tiba-tiba datang dan tanya kenapa anak paling senang? Aku jawab
temanku sudah menikah dan sekaligus dengan aku cerita terkait dengan pengalaman
yang terkini di Bogor.
Di mana di tinggal?
Tanyaku pada ibu Dwi fajar. Lalu ibu Dwi fajar tinggal di Dramaga sudah pindah
dengan istrinya, aku tak lupa berdoa untuk berdua dan suatu saat kita bertemu
kembali di kota Hujan.
Dwi fajar, walaupun aku
telah tiada disitu tapi aku selalu ada hati Dwi fajar dan teman-teman di kota
hujan. Tuhan memberkati.

0 Komentar